Senin, 5 Januari 2026 – Diantara persaingan ketat akademik mahasiswa Kedokteran UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, nama Muhammad Rafelino Ernandes tampil sebagai salah satu sosok yang menonjol. Lulusan SMAN 1 Batanghari ini berhasil menorehkan capaian yang tidak hanya konsisten, tetapi juga langka: tiga blok ujian kedokteran dilalui dengan hasil selalu masuk peringkat sepuluh besar. Lebih dari itu, ia nyaris menjadi satu-satunya mahasiswa laki-laki yang mampu bertahan di jajaran elite tersebut.
Sejak awal perkuliahan, Rafelino memahami bahwa sistem pendidikan kedokteran menuntut ketahanan akademik jangka panjang. Sistem blok dengan materi yang padat memaksa setiap mahasiswa untuk disiplin, adaptif, dan mampu mengelola diri. Baginya, bertahan di level atas bukan semata tentang kecerdasan, melainkan tentang konsistensi menjaga ritme belajar.
Pada blok pertama, yang membahas ilmu pengantar kedokteran dasar, Rafelino mampu memanfaatkan fase pembentukan fondasi dengan sangat baik. Pendekatan belajar yang terstruktur membuatnya cepat beradaptasi, hingga akhirnya mengantarkannya masuk top 10 mahasiswa terbaik di angkatannya.
Memasuki blok kedua dengan materi sistem integumen dan muskuloskeletal, tantangan akademik meningkat signifikan. Meski tingkat kesulitan bertambah, Rafelino tetap menunjukkan stabilitas performa. Bahkan ketika hasilnya tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi pribadi, ia tetap mempertahankan posisi di peringkat sepuluh besar, sebuah capaian yang tidak banyak mahasiswa mampu jaga secara berkelanjutan.
Puncak ujian konsistensi itu terlihat pada blok ketiga, yang membahas sistem neuroendokrin dan organosensori, materi yang dikenal kompleks dan menuntut pemahaman mendalam. Dengan persiapan yang lebih matang dan evaluasi berkelanjutan dari blok sebelumnya, Rafelino kembali membuktikan kapasitasnya. Untuk ketiga kalinya, namanya tercatat di jajaran top 10, menjadikannya salah satu mahasiswa cukup stabil secara akademik di kelasnya.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah fakta bahwa Rafelino hampir menjadi satu-satunya mahasiswa laki-laki yang mampu menembus dan bertahan di peringkat sepuluh besar pada setiap blok. Di tengah dominasi mahasiswa perempuan dalam daftar prestasi akademik, konsistensi Rafelino menjadi sorotan tersendiri.
Di balik capaian tersebut, Rafelino tetap menjaga keseimbangan hidup. Ia sadar bahwa performa tinggi tidak akan bertahan tanpa manajemen stres yang baik. Waktu luang ia manfaatkan untuk berolahraga, bermain game, atau pulang ke rumah bertemu keluarga cara sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan mental.
Lingkungan pertemanan yang suportif juga menjadi faktor penting. Diskusi, belajar kelompok, dan saling menjelaskan materi membantu memperdalam pemahaman serta memperkuat daya tahan akademik.
Namun, di atas segalanya, kekuatan terbesar Rafelino terletak pada motivasinya. Ia menempuh pendidikan kedokteran bukan karena tekanan, gengsi, atau sekadar ikut tren. Kedokteran adalah pilihannya sendiri, dan karena itu ia merasa bertanggung jawab untuk menjalani setiap proses dengan totalitas. Dukungan keluarga yang hadir tanpa paksaan menjadi fondasi kuat dalam setiap langkahnya.